KAMAR TIDUR

Beberapa waktu lalu, saya cosplay menjadi Mbok Mase—perempuan tajir melintir dengan enam kamar penuh berlian. Waktu itu, saya menjadi fasilitator sesi etno-pedagogy di Teacher Training Class 2025. Peserta TTC bahkan saya janjikan hadiah berlian dua kilogram setelah acara selesai.

Tentu saja, semuanya cuma fantasi.

Tapi justru karena itu, suasananya hidup luar biasa. Kami tertawa, membayangkan, dan menikmati cerita absurd itu bersama-sama. Yang menarik, semua peserta begitu antusias berada di dalam imajinasi itu—tanpa harus memikirkan apakah masuk akal atau tidak.

Entah mengapa, kenangan tentang Mbok Mase dan kamar-kamarnya yang berkilauan itu kembali terlintas saat saya sedang melamun di kamar tidur. Kamar yang sebenarnya. Yang saya tempati setiap hari.

Saya jadi ingat satu baris lirik dari lagu favorit saya, Don’t Look Back in Anger: “I’m gonna start a revolution from my bed.” Kalimat itu terdengar akrab. Sedikit romantis. Sedikit jenaka. Seolah perubahan besar memang boleh dimulai dari tempat paling nyaman.

Dan sering kali memang begitu. Tempat tidur bukan hanya tempat istirahat. Ia juga ruang untuk berpikir, menunda, atau bahkan berhenti terlalu lama. Dari kamar tidur banyak niat baik dimulai. Dari kamar tidur pula, banyak hal dibiarkan tidak bergerak—termasuk kamar di sekitarnya.

Saya mulai memperhatikan bagaimana ruang tidur ternyata bisa mencerminkan isi kepala. Saya ingat ada istilah depression room—sebuah istilah populer untuk menyebut kamar yang dibiarkan berantakan. Biasanya dikaitkan dengan turunnya energi atau motivasi. Bukan istilah medis, hanya cara untuk menamai situasi yang terasa akrab bagi banyak orang.

Hubungan antara ruang dan kondisi batin sebenarnya sederhana. Saat tubuh lelah, merawat kamar terasa berat. Sebaliknya, kamar yang penuh hal-hal tak terselesaikan juga bisa membuat pikiran sulit benar-benar tenang. Tanpa disadari, kita terus merasa ada yang belum selesai—meskipun sudah berbaring.

Tentu saja, tidak semua kamar berantakan berarti seseorang sedang depresi. Kadang berantakan adalah tanda kelelahan. Kadang juga hanya hasil dari terlalu banyak hal yang ditunda dengan tenang.

Dan di titik ini, pikiran saya kembali ke Mbok Mase. Enam kamar berisi berlian itu memang menyenangkan untuk dibicarakan. Tapi tetap saja, semuanya perlu dirawat. Sebanyak apa pun ruang yang kita punya, semuanya akan terasa berat jika dibiarkan begitu saja.

Mungkin revolusi memang bisa dimulai dari tempat tidur. Tapi langkah pertamanya sering kali bukan sesuatu yang besar. Kadang cukup dengan bangun sebentar, melihat sekitar, dan memilih satu sudut kecil untuk dibereskan. Bukan demi rapi. Hanya agar ruang yang kita tinggali tidak ikut lelah sendirian.

Mungkin hari ini, setelah membaca tulisan ini, ada yang mau mencoba bangun sebentar dan membereskan kamar tidurnya?

FUNGIE