Mungkinkah Mampir Hari Ini

Beberapa hari setelah Lebaran, suasana mulai kembali seperti biasa. Rutinitas pelan-pelan berjalan lagi, obrolan silaturahmi mulai digantikan jadwal pekerjaan, dan notifikasi ucapan maaf lahir batin sudah berhenti berdenting. Tapi ada satu hal yang semoga tidak ikut pergi: kerendahan hati.

Kerendahan hati sering kali terdengar sederhana, tapi dalam praktiknya tidak selalu mudah. Ada kalanya keinginan untuk merasa paling benar atau paling tahu mengalahkan ruang untuk mendengarkan dan belajar. Padahal, dalam setiap percakapan dan keputusan, selalu ada kemungkinan bahwa sudut pandang orang lain membawa pelajaran berharga.

Momen setelah Lebaran bisa menjadi pengingat kecil. Apakah semangat untuk memahami, memaafkan, dan menahan ego hanya muncul saat hari besar, atau bisa dibawa terus ke hari-hari biasa? Apakah kerendahan hati hanya hadir saat suasana mendukung, atau tetap tinggal meski tantangan datang?

Menjadi rendah hati bukan berarti merendahkan diri. Justru sebaliknya—kerendahan hati menunjukkan kekuatan untuk mengakui keterbatasan, memberi ruang pada orang lain, dan tidak selalu ingin jadi pusat perhatian. Kadang cukup dengan mendengarkan tanpa menyela, hadir tanpa menghakimi, dan memberi tanpa berharap dibalas.

Kerendahan hati tidak datang dengan suara keras. Tapi saat benar-benar hadir, suasana menjadi lebih tenang, relasi terasa lebih tulus, dan hidup pun terasa lebih ringan.

Mungkinkah hari ini, kerendahan hati mampir?

FUNGIE