UJI NYALI

Sejak dari rumah, saya sudah menyiapkan nyali untuk mendatangi warung sate Madura Bu Udin. Mengapa demikian? Inilah gambarannya.

Sate Ayam Bu Udin di CFD sangat laris. Antriannya panjang, satenya enak, dan harganya murah. Warung ini terletak di sekitaran Grand Mall. Selain sate ayam Madura, Bu Udin juga berjualan Soto Madura. Bu Udin berjualan sate bersama dengan suami dan dua anaknya. Keluarga Bu Udin jarang sekali berbicara satu sama lain; pun dengan pelanggannya. Mereka selalu memunculkan wajah yang muram, suram, lesu, kusam, tegang, tidak ramah dengan pelanggan; bahkan cenderung galak. Jika ditinjau dari ilmu marketing, jualan Ibu Udin tidak masuk kategori yang layak didatangi pelanggan. Namun anehnya, jualan ini laris.

Bu Udin bertugas menyajikan dan menerima pesanan. Jika kita pesan, dia hanya mengeluarkan suara,”hhhmmmm” atau menjawab dengan nada ketus dan muka datar. Suaminya bertugas membakar sate; pun memunculkan wajah tanpa ekspresi. Anak laki-laki yang berbadan besar bertugas membuat minuman. Tak beda jauh dengan orang tuanya, ia hanya mengangguk kaku saat seseorang memesan minuman. Ia tidak pernah terlihat bicara. Sementara anak laki-laki kurus tinggi yang bertugas mencuci piring dan gelas menorehkan wajah yang penuh tekanan dan beban pikiran berkepanjangan (menurut persepsi saya).

Seperti penjelasan saya di awal, Keluarga Udin melayani saya dengan muram dan kusam pada CFD Minggu pagi itu. Saya memesan 2 porsi sate ayam, lontong setengah, tanpa tambahan kecap manis. “Bu, saya duduk di meja dekat tahu kupat, ” kata saya memberi penjelasan. Bu Udin menjawab, “Hhhmmmm…”, tanpa menoleh tanpa ekspresi.

Setelah hampir 20 menit menunggu, pesanan saya belum juga datang. Lalu saya bertanya, “Bu pesanan saya mana? Masih lama nggak?”, dengan ketus Bu Udin menjawab, “Sabar. Baru dibikin. Duduk dulu!”

Entah kekuatan apa yang dimiliki oleh Bu Udin, namun seolah-olah saya digerakkan oleh Bu Udin untuk segera kembali ketempat duduk. Kabarnya seluruh perkataan Bu Udin memang mengandung kekuatan untuk membuat pelanggan menuruti perintahnya dan menjauhi larangannya. Larangannya adalah tidak banyak bertanya atau melawan sikap Bu Udin. Pelanggan yang melanggar perintah Bu Udin akan menerima sikap lebih sadis lagi. Sebagai contoh, seorang pelanggan pernah dimarahi Bu Udin gara-gara tidak sabar menunggu pesanan. Kata Bu Udin, “kalau ngga bisa sabar beli ditempat lain saja.” Beberapa pelanggan yang sudah tahu tabiat Bu Udin tertawa cekikikan mendengar respon Bu Udin atas protes pelanggannya.

Setelah lebih dari 30 menit menunggu, pesanan saya akhirnya datang. Saya sangat menikmati sate Bu Udin. Buruknya sikap dan pelayanan Bu Udin terhapus oleh kelezatan satenya. Harga Rp 17,000 untuk 10 sate ayam dan lontong tentunya amat murah.

Saat membayar sate, saya minta ijin apakah Bu Udin berkenan difoto. Dia mengangguk cepat.

“Bu, kenapa Ibu nggak pernah tersenyum dan galak?” tanya saya memberanikan diri.

“Hmm.. aku ngga galak. Aku gampang bingung kalau diajak bicara. Nanti pesanan salah, pelanggan marah. Ini kembaliannya,” kata Bu Udin sambil menyodorkan uang kembalian. “Sudah sana. Ngga usah tanya-tanya lagi. Bikin bingung saja,” katanya setengah mengusir. ***

Fungie